My Itikaf Story

Bandung, Ramadhan 1438 H

Well ini kali kedua aku, mungkin bisa juga dikatakan kali ketiga aku beritikaf di masjid Salman ITB. 

Selain karena dekat dengan rumah, lingkungan masjid Salman yang sudah akrab denganku dari mulai aku kecil sangat membuat nyaman. Apalagi jika melihat arsitektur kayunya benar2 membuatku merasa betah serasa di rumah. 

Setiap tahun kulewati kegiatan ini dengan sahabat taatku insyaAllah. Harapanku tahun ini bisa melaksanakannya dengan teman hidupku namun Allah belum mengijinkannya. 

Oke, untuk memulai awalnya sangat berat bagiku. Mengapa tidak, saat2 10 hari terakhir adalah masa yang ramai buka bersama dan aku pun harus lembur di kantor. Tapi alhamdulillah akhirnya aku bisa melangkahkan kaki ke sana dan menghabiskan beberapa malam di mesjid tempat aku mengenal islam.

Well, kegiatan favorite aku di sana ga pernah membuat aku bosan. Terutama qiyamulail. Aku jadi jatuh cinta dengan bacaan quran lagam bayati yang dibacakan oleh Imam kala itu. Apalagi setiap witir selalu ditutup dengan qunut yang sangat menggetarkan hati.

Setiap tahun pasti ramai sekali pesertanya. Baik yang datang dari Bandung atau luar kota. Di malam ke 29 aku berkenalan dengan seorang ibu 4 anak yang berasal dari Cikarang.

Beliau mengkaji di tarbiyah dan punya hobi sama denganku, menulis. Namun pengalaman beliau sangatlah kaya, beliau sudah menerbitkan sebuah buku dan menulis blog sudah jadi pekerjaan sampingannya. Aku pribadi menjadi termotivasi untuk lebih baik lagi. 

Bismillah semoga aku bisa meraih malam lailatul qadar dan menjadi insan yang lebih taqwa. Aamiin

#YaaAllahjauhkanDyahdaripenyakit hatiAamiin

Advertisements

Facebook

Well, setelah satu minggu “menderita” thypus dan harus rawat jalan (alhamdulillah ga di-opname), saya bisa balik lagi beraktivitas. Alhamdulillah.

Yang jelas, saya pribadi sekarang ga akan bahas tentang sakitnya saya.

Baru aja, setelah sekian lama saya ga buka fb, saya buka fb dengan niat tulus untuk ganti kontak handphone karena selalu merasa terganggu dengan banyaknya notifications yang mampir ke sms telepon genggam saya. Aduh! Ternyata setelah saya cek, tidak ada satupun no kontak yang saya masukan, useless. Untuk teman2 yang punya dan tahu caranya kindly share the ways ya. Makasih.

But, bukan itu poin saya di postingan kali ini.

Saya tuh memang orang yang perasa dan sensitive. Saya jarang bahkan hampir ga pernah benci siapapun meskipun saya sering merasa kecewa. Well itu mengapa mungkin ya, kita ga boleh ngarep sama manusia.

Ya, saya kecewa. Baca status FB seorang teman lama, adik kelas saat di universitas dulu. Innalillahi, kecelakaan terbesar dalam hidup seseorang karena kebencian tertanam di hatinya. Back again that everyone can never feel the same way, I understand it well. Tapi untuk seseorang yang pernah mengaku paham agama. Ini terdengar menyedihkan.

Mengapa dia yang dulu pernah mengkaji Islam jadi jauh dari Islam? Bahkan sulit kini saya pahami bahwa dia pernah “memahami” Islam. Ya, saya memang tidak pernah punya rasa bangga akan suatu pengajian tertentu. Saya suka dengan Islam dan saya akan ambil yang disampaikannya, bukan siapa yang menyampaikan.

Astagfirullah, saya tahu saya sedikit marah sampai menangis membaca postingannya, dan saya hanya bisa berdoa karena tidak mau timbul “rasa panas” antara kami berdoa. Tapi sungguh, Dik, kalau kamu baca postingan saya, tetaplah mengkaji Islam di manapun, di pengajian apapun, yang mengajak kebaikan, membela dan menjaga agama Allah, meneruskan kewajiban menuntut ilmu Islam, menyeru agar kehidupan Islam bisa kembali dilanjutkan, tanpa paksaan, tanpa saling hina. Islam itu satu. Astagfirullah. Kenapa harus menjadi nyinyir begitu?

Rasa benci atau marah itu seperti karet yang direntangkan tangan. Di tarik, kencang. Dilepas satu tangan, akan terkena tangan yang lain. Begitu sebaliknya. Rugi? Iya.

Rasulullah pernah marah, pernah. Namun bukan marah pada orang yang baik. Semoga ya, semoga diberi petunjuk. Karena saya tahu setiap orang adalah baik dan tetap akan baik, bismillah.

 

Dispepsia VS Maag

Well, alhamdulillah setelah sekian lama saya bisa berkunjung dan menulis di sini lagi. Oke, di website ini, sekarang saya ingin share tentang Dispepsia.

Simpelnya, Dispepsia berasal dari kata Dis dan Pepsia. Dis artinya ‘buruk’ atau ‘salah’ sementara Pepsia berarti ‘pencernaan’ dalam bahasa Yunani. Jadi jika disatukan, maknanya adalah Pencernaan yang buruk.

Lalu bedanya dg maag apa?

Beda, kalau maag ada gangguan pencernaan atau penumpukan asam lambung yang tinggi dan gangguannya hanya seputar lambung saja. Lain halnya dengan Dispepsia, ini diakibatkan oleh maag yang sudah akut 😦 sehingga bukan hanya maag alias lambung yang ‘terluka’ tapi seluruh anggota organ pencernaan.

Idiiih, serem ya.

Nah, hari senin, aku divonis Dispepsia oleh dokter. Wallahu ‘alam ya. Laa ba’asa, thohuron 🙂

Dari semua gejala dispepsia yang aku baca di internet seperti sesak napas, mual dan malas makan, lemas, dan stress. Aku cuma mengalami mual dan malas makan, perasaan selalu kenyang atau mudah kenyang dan lemas. Ya, akhir-akhir ini aku memang lemas tapi fase lelahku sudah lewat beberapa bulan lalu.

Entahlah memang harus istirahat saja. Semoga kalian yang membaca blog-ku selalu sehat dan waspada dengan semua gejala aneh di tubuh kalian ya.

Be happy dan keep healthy 🙂

Acne Story with Mineral Botanica #1

Hai

Halo

Halo

Hai

Ketemu lagi nih sama dyah. Well hari ini alhamdulillah akhirnya aku beli Acne Care Serum dari Mineral Botanica. Hm, aku tau produk MiCa pertama kali dari temen aku, berupa lipstick. Nah, karena aku sempet mau berhemat dan stop ke dokter akhirnya aku browsing-browsing Skin care apa yang cucok, aman dan terjangkau. Well, pilihanku jatuh ke Acne Care Mica.

Gatau ya, kayanya hatiku tergerak untuk beli produk lokal ini. Yup, MiCa adalah brand asli Indonesia. Kalau kamu berselancar di dunia maya, kamu pasti akan menyangka MiCa adalah produk buatan luar, atau tepatnya Korea. Emang sih, dari packaging nya produk ini unyu banget kaya produk Korea. Kemasannya pun cenderung pastel, bener-bener manis banget.

Untuk percobaan perdana, berbekal pengalaman orang lain dari hasil browsing, aku memutuskan beli Acne Care Serum.

Ini nih si MiCa lagi foto sama temen-temennya.

Aku dapetin produk ini di Borma Dago. Aku iseng aja, nyari sambil jalan-jalan, taunya ada dong! Bahkan ada counter resminya. Ada mba-mba spg nya juga, ini nilai plus karena kita bisa diarahkan oleh mba-mba ini.

Aku beli Serum yang total berisi 15 ml ini dengan harga IDR 83900. Widih, cukup lumayan emang. Semoga hasilnya berbanding lurus dengan harga ya.

Oke, sekarang aku mau bedah isi dari MiCa Acne Serum ini.

Penampilan

Acne care MiCa punya cover yang feminin banget, pink. Aku suka deh sama penampilan fisiknya yang lucu banget. Selain itu, dus dari MiCa ini punya motif bunga di dalam dusnya. 

Nambah lucu kan?

Komposisi dan Cover

MiCa ini tenar banget dengan ciri mereka yang no animal test dan no paraben. Ini jadi nilai plus mereka.

Komposisi MiCa terletak di dua bagian. Di dus seperti yang ada di atas dan di botol fisik Acne Serum. Dus MiCa licin dan punya kesan mahal. Sementara penampilan fisik botol Acne Serum terlihat mahal, namun sebenarnya sederhana. Botol Acne Serum berbahan plastik dengan cover merk dan komposisi dari kertas yang dilapisi plastik. 

Aku sih pas buka kemasan botol Acne Serum ini sangat hati2 karena aku ga ingin kemasannya rusak. Tapi, aku suka kemasan botol ini, terbuat dari plastik sehingga ga bikin botol mudah pecah dan ringan beut.

Isi dan Kegunaan

Well, seperti yang udah aku sebutkan di atas, Netto dari si cantik Acne Serum ini 15ml. Terdengar sedikit padahal dengan penggunaan secukupnya, kuyakin ini bisa bertahan sampai 2 bulan. 

Penampakan Acne Serum ini cair, teksturnya polos dan ringan seperti air pada umumnya, namun ini agak sedikit lengket jika bersisa di tangan. Jadi kalau mau aplikasikan bisa diatur menjadi sangat sedikit aja sob.

Nah, fungsi dari Acne Serum ini adalah untuk membuat wajah cerah dan bersih karena serum ini mengandung colagen, vitamin C dan anti oksidan.

Review dari blog lain bilang bahwa produk ini bisa membuat jerawat kempes.

Aku baru coba tadi malam, satu kali. Review apakah ini berfungsi dengan baik dan hasil dari penggunaan akan aku update lagi ya. Semoga usahaku kali ini dengan MiCa bisa dapet hasil positive.

Thanks for visiting 🙂


Potret Edukasi

Hari pendidikan nasional memang masih lama, namun Februari ini aku cukup mengalami pengalaman seputar edukasi yang pantas membuatku termenung dan merenung.

Hari itu Rabu, 22 Februari 2017, aku mengambil cuti kerja karena mengikuti sebuah kegiatan sukarelawan yang bertujuan untuk menebar inspirasi. Sasaran kami ada Sekolah Dasar di Kota Bandung. Harapan kami, sehari mengajar selamanya menginspirasi. Menularkan mimpi setinggi langit dengan semangat membumi.

Pagi itu masing-masing dari kami mengawali hari dengan pergi ke sekolah tujuan kami masing-masing. Alhamdulillah aku ditempatkan di sebuah sekolah dasar di perbatasan Kota Bandung. Cukup sulit bagi kami pagi itu untuk menemukan sekolah yang dituju.

Bukan sekolah baru, namun sekolah itu menempati bangunan yang baru satu tahun. Pertemuan kami hari itu cukup singkat. Pembukaan di pagi hari dan penutupan di siang hari. Akhir pertemuan kami ditutup oleh testimoni Ibu Kepala Sekolah yang membuatku diam dan perhalan flash back sambil mensyukuri yang telah menjadi nikmat dihidupku.

Aku bersekolah di Sekolah Dasar Percobaan Negeri yang berlokasi di tengah kota, aku menikmati fasilitas yang cukup dan tentunya tidak pernah tertinggal informasi. Hampir setiap semester kami diikutkan lomba antar sekolah. Beberapa piagam penghargaan sampai piala lomba pun banyak kami kantongi. Di usiaku dulu, aku tidak yakin SD lain mempelajari fisika dan biologi yang tidak disatukan dalam IPA. Kami juga memiliki tingkat percaya diri tinggi untuk masuk SMP Negeri.

Dulu, aku pasti lupa bersyukur.

Pertemuanku dengan banyak pihak di SD itu, membuatku sadar dan mulai bersyukur. Bisa masuk SMP Negeri favorit di kota Bandung juga membuatku bersyukur. SMA Negeri kemudian Universitas Negeri juga membuatku bersyukur.

Aku bersyukur memiliki cita-cita semenjak aku kecil (dokter, tidak tercapai). Adik-adik yang kemarin bertemu denganku belum semua memiliki cita-cita. Beberapa dari mereka malah mengatakan nama-nama tokoh sinetron. Well, aku bilang pada mereka, “Ya sudah kalian jadi artis aja”. Mereka hanya menjawab, “Engga atuh Bu, da kita mah apa. Ga mungkin jadi artis.”

Well, tag line kami dari kelas inspirasi adalah menularkan semangat cita-cita setinggi langit. Kami tularkan semangat dan harapan. Banyak dari para inspirator yang berangkat dari keterbatasan, kita tularkan semangat untuk bangkit.

Aku pribadi berterima kasih pada Allah dan mama papa karena aku punya kesempatan sampai sejauh ini mengejar cita-cita. Citaku kini mengikuti jalan hidup yang kutempuh. Memang aku bukan berangkat dari Fakultas Kedokteran, tapi sama seperti dokter akupun ingin bisa melakukan pengabdian membangun negeri, mewujudkan cita-cita bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengantar tunas bangsa ke pintu gerbang edukasi, edukasi yang terarah, yang bisa bijak menghadapi tantangan jaman dan globalisasi. Besar harapanku untuk menuntun tunas ini sampai tumbuh berkembang, sampai mereka juga mengembangkan tunas yang baru.

Bisa? InsyaAllah, yang penting aku sedang berusaha melakukannya.

Wallahua’lam bish shawab.

 

Panduan Menulis Esai: Fulbright (Study Objective)

Panduan Menulis Esai Fulbright Study Objective

Learn for the Future

DSCN6483Tulisan ini akan mencoba membahas satu esai yang diminta dalam melamar beasiswa S2 dan S3 Fulbright, yaitu Study Objective.

Untuk pelamar beasiswa S3 Fulbright ada satu lagi yang diminta, yaitu research proposal. Bagi teman – teman yang tertarik ingin melamar beasiswa S3 Fulbright, bisa lihat contoh research proposal di link dibawah ini:

Contoh Research Proposal S3 untuk melamar beasiswa Fulbright.

Langsung kita bahas saja ya.

Bila dilihat, formulir aplikasi beasiswa S2 dan S3 Fulbright termasuk sederhana dibandingkan dengan formulir aplikasi beasiswa lainnya yang biasanya berlembar-lembar. Ini juga berlaku untuk bentuk esai yang diminta, hanya satu, yaitu study objective. Jika sudah lulus sebagai principal candidate, biasanya nanti akan diminta menuliskan satu esai lagi yang bernama personal statement. Dalam kesempatan ini kita hanya akan membahas esai study objective agar bisa dijadikan panduan oleh teman-teman yang berniat melamar beasiswa S2 dan S3 Fulbright. Perlu diketahui, beasiswa Fulbright selalu dibuka setiap tahun dengan deadline…

View original post 1,461 more words

I lost it..

Iya, aku kehilangan notes eBdesk-ku. Sedih. Itu kan yang pertama kali nemenin aku di eBdesk. Masi bagus da, lecek dikit plastiknya dan alhamdulillah penuh. Di dalemnya aku pernah nulis goal 2015. MasyaAllah kok bisa gak ada? Terakhir lihat, ada di kosan pas aku pindah sementara. Sekarang setelah balik lagi ke kamar, kok ga ada ya? Astagfirullah. Semoga ikhlas deh. Kaduhung gini. Kehilangan memang tidak enak. Maaf ya notes, whereever you are… I will always remember you. Maafin aku udah bikin kamu hilang. Memori kamu tetep ada di benakku kok. Still looking for you.
Semoga kamu kaya sepatu crocs aku yang tetiba ada di bawah karpet. Love you notes.

Alay, tapi ini emang suara hatiku. Sense of belonging nya emang yahud.