Facebook

Well, setelah satu minggu “menderita” thypus dan harus rawat jalan (alhamdulillah ga di-opname), saya bisa balik lagi beraktivitas. Alhamdulillah.

Yang jelas, saya pribadi sekarang ga akan bahas tentang sakitnya saya.

Baru aja, setelah sekian lama saya ga buka fb, saya buka fb dengan niat tulus untuk ganti kontak handphone karena selalu merasa terganggu dengan banyaknya notifications yang mampir ke sms telepon genggam saya. Aduh! Ternyata setelah saya cek, tidak ada satupun no kontak yang saya masukan, useless. Untuk teman2 yang punya dan tahu caranya kindly share the ways ya. Makasih.

But, bukan itu poin saya di postingan kali ini.

Saya tuh memang orang yang perasa dan sensitive. Saya jarang bahkan hampir ga pernah benci siapapun meskipun saya sering merasa kecewa. Well itu mengapa mungkin ya, kita ga boleh ngarep sama manusia.

Ya, saya kecewa. Baca status FB seorang teman lama, adik kelas saat di universitas dulu. Innalillahi, kecelakaan terbesar dalam hidup seseorang karena kebencian tertanam di hatinya. Back again that everyone can never feel the same way, I understand it well. Tapi untuk seseorang yang pernah mengaku paham agama. Ini terdengar menyedihkan.

Mengapa dia yang dulu pernah mengkaji Islam jadi jauh dari Islam? Bahkan sulit kini saya pahami bahwa dia pernah “memahami” Islam. Ya, saya memang tidak pernah punya rasa bangga akan suatu pengajian tertentu. Saya suka dengan Islam dan saya akan ambil yang disampaikannya, bukan siapa yang menyampaikan.

Astagfirullah, saya tahu saya sedikit marah sampai menangis membaca postingannya, dan saya hanya bisa berdoa karena tidak mau timbul “rasa panas” antara kami berdoa. Tapi sungguh, Dik, kalau kamu baca postingan saya, tetaplah mengkaji Islam di manapun, di pengajian apapun, yang mengajak kebaikan, membela dan menjaga agama Allah, meneruskan kewajiban menuntut ilmu Islam, menyeru agar kehidupan Islam bisa kembali dilanjutkan, tanpa paksaan, tanpa saling hina. Islam itu satu. Astagfirullah. Kenapa harus menjadi nyinyir begitu?

Rasa benci atau marah itu seperti karet yang direntangkan tangan. Di tarik, kencang. Dilepas satu tangan, akan terkena tangan yang lain. Begitu sebaliknya. Rugi? Iya.

Rasulullah pernah marah, pernah. Namun bukan marah pada orang yang baik. Semoga ya, semoga diberi petunjuk. Karena saya tahu setiap orang adalah baik dan tetap akan baik, bismillah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s