Potret Edukasi

Hari pendidikan nasional memang masih lama, namun Februari ini aku cukup mengalami pengalaman seputar edukasi yang pantas membuatku termenung dan merenung.

Hari itu Rabu, 22 Februari 2017, aku mengambil cuti kerja karena mengikuti sebuah kegiatan sukarelawan yang bertujuan untuk menebar inspirasi. Sasaran kami ada Sekolah Dasar di Kota Bandung. Harapan kami, sehari mengajar selamanya menginspirasi. Menularkan mimpi setinggi langit dengan semangat membumi.

Pagi itu masing-masing dari kami mengawali hari dengan pergi ke sekolah tujuan kami masing-masing. Alhamdulillah aku ditempatkan di sebuah sekolah dasar di perbatasan Kota Bandung. Cukup sulit bagi kami pagi itu untuk menemukan sekolah yang dituju.

Bukan sekolah baru, namun sekolah itu menempati bangunan yang baru satu tahun. Pertemuan kami hari itu cukup singkat. Pembukaan di pagi hari dan penutupan di siang hari. Akhir pertemuan kami ditutup oleh testimoni Ibu Kepala Sekolah yang membuatku diam dan perhalan flash back sambil mensyukuri yang telah menjadi nikmat dihidupku.

Aku bersekolah di Sekolah Dasar Percobaan Negeri yang berlokasi di tengah kota, aku menikmati fasilitas yang cukup dan tentunya tidak pernah tertinggal informasi. Hampir setiap semester kami diikutkan lomba antar sekolah. Beberapa piagam penghargaan sampai piala lomba pun banyak kami kantongi. Di usiaku dulu, aku tidak yakin SD lain mempelajari fisika dan biologi yang tidak disatukan dalam IPA. Kami juga memiliki tingkat percaya diri tinggi untuk masuk SMP Negeri.

Dulu, aku pasti lupa bersyukur.

Pertemuanku dengan banyak pihak di SD itu, membuatku sadar dan mulai bersyukur. Bisa masuk SMP Negeri favorit di kota Bandung juga membuatku bersyukur. SMA Negeri kemudian Universitas Negeri juga membuatku bersyukur.

Aku bersyukur memiliki cita-cita semenjak aku kecil (dokter, tidak tercapai). Adik-adik yang kemarin bertemu denganku belum semua memiliki cita-cita. Beberapa dari mereka malah mengatakan nama-nama tokoh sinetron. Well, aku bilang pada mereka, “Ya sudah kalian jadi artis aja”. Mereka hanya menjawab, “Engga atuh Bu, da kita mah apa. Ga mungkin jadi artis.”

Well, tag line kami dari kelas inspirasi adalah menularkan semangat cita-cita setinggi langit. Kami tularkan semangat dan harapan. Banyak dari para inspirator yang berangkat dari keterbatasan, kita tularkan semangat untuk bangkit.

Aku pribadi berterima kasih pada Allah dan mama papa karena aku punya kesempatan sampai sejauh ini mengejar cita-cita. Citaku kini mengikuti jalan hidup yang kutempuh. Memang aku bukan berangkat dari Fakultas Kedokteran, tapi sama seperti dokter akupun ingin bisa melakukan pengabdian membangun negeri, mewujudkan cita-cita bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa. Mengantar tunas bangsa ke pintu gerbang edukasi, edukasi yang terarah, yang bisa bijak menghadapi tantangan jaman dan globalisasi. Besar harapanku untuk menuntun tunas ini sampai tumbuh berkembang, sampai mereka juga mengembangkan tunas yang baru.

Bisa? InsyaAllah, yang penting aku sedang berusaha melakukannya.

Wallahua’lam bish shawab.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s