yaaaaaah

Senyumnya harus ditahan dulu. Masi dipending nih. Emang agak ragu sih. Ragu apakah ini yang terbaik atau engga. Kemarinpun doa ke Allah, berikan yang terbaik. Yah kalau bukan terbaik, pasti ga dapet. Jadi ga terlalu kecewa berat. Sudah ah, stop ngeluh dan bete. Mungkin jodohnya jadi ahli bahasa. Aamiin.
#siapsiaplamarbeasiswalagi

Cinta dan Benci karena Allah

Sudah cukup lama saya membahas cinta dan benci karena Allah ini. Bab ini adalah bab paling favorit bagi saya yang ada dalam buku pilar pengokoh nafsiah. Dalam bab ini disinggung soal bagaimana kita harus mencintai sesama manusia karena Allah dan membenci karena Allah. Apa maksudnya?

Cinta karena Allah

Mungkin saya dan kebanyakan manusia di muka bumi ini mencintai apa yang kami anggap baik dan memberi manfaat bagi kami. Padahal dalam surat Al Baqarah 216, Allah mengingatkan apa yang baik bagi kamu belum tentu itu baik dr Allah. Well, maka cinta secukupnya saja. Maka kita tidak akan kecewa jika ada hal buruk terjadi pada yang kita cinta.

Sekarang saya belajar tentang cinta karena Allah. Cinta karena Allah adalah mencintai yang Allah cintai. Kebaikan dan hambanya. InsyaAllah jika kita belajar untuk mencintai karena Allah, Allah pun akan senantiasa mencintai kita. Ada banyak tuntunan Al Quran tentang mencintai apa yang Allah cintai. Misal, mencintai anak yatim. Nah, kita bisa belajar mulai mencintai anak yatim. Mencintai fakir miskin, mencintai amal kebaikan, mencintai al quran dan mencintai Allah serta rasulnya.

Bahkan Allah mendorong kita untuk saling mencintai karena Allah. Allah tak suka bila kita abai dan acuh pada saudara kita. Ada hadits yang mengatakannya:

Tidak beriman seorang muslim sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Ini memang luar biasa.

Islam mengajarkan kebaikan, bahkan mencintai dan menyayangi sesama sudah diatur sedemikian rupa di dalamnya.

Benci karena Allah

Lalu, bagaimana dengan benci karena Allah?

Kadang saya bisa cenderung kesal terhadap apa yang saya tidak senangi. Saya akan marah, jutek, sampai tidak peduli dengan apa yang saya benci.

Namun itu semua salah. Salah besar jika saya tidak melandasinya dengan Al Quran dan As Sunnah.

Dalam Islam, yang Allah minta untuk dibenci adalah apa-apa yang bertentangan dengan agama. Misal, teman kamu musyrik. Nah, kamu dituntut untuk membenci aktivitas kemusyrikan temanmu itu. Bukan membenci temanmu. Malah kamu diminta menyadarkan temanmu itu. Kamu diminta untuk tetap melaksanakan kebaikan dan aktivitas nasihat-menasihati.

Sekali lagi, Islam memang luar biasa.

So, untuk teman semua apalagi yang sudah baca postingan saya kali ini, ayo yuk ah berubah. Jadi pribadi yang jika mencintai adalah karena ingin meraih ridho Allah, yang membenci pun karena Allah swt.

Cinta sewajarnya dan jika membenci, iringilah dengan nasihat bukan karena penyakit hati, iri dan dengki. InsyaAllah dunia akan aman jika perasaan ini terpelihara dengan baik.

Ingat, setan ga akan tinggal diam untuk memengaruhi manusia dalam urusan cinta dan benci ini. So yuk, mulai sekarang, kita jaga rasa cinta dan benci kita hanya karena Allah semata 🙂

Love from Bandung

Dk 🙂

Marilah dirikan sholat

Kemarin bertemu dengan seorang teman. Dia bertanya jam berapa ini? Saya jawab jam 4 sore. Dia langsung kaget dan terbelalak. Dia teringat dirinya belum shalat ashar. MasyaAllah, padahal baru jam 4 tapi merasa sangat bersalah. Semoga bisa seperti dirinya ya Allah, yang merasa sangat berdosa ketika melalaikan panggilanmu.

kerikil itu kadang bisa mengalihkan fokusmu

Well, badan saya masih lelah karena hari minggu kemarin saya menghabiskan waktu dari pagi sampai maghrib di luar kota. Saya berangkat dari pukul 5 dan baru kembali ke rumah pukul 12 malam. Bukan tanpa alasan, saya pergi ke sana untuk tujuan yang baik.

Nasihat seorang sahabat dan seorang tua yg bijak adalah saya harus fokus. Fokus ternyata tidak semudah itu. Saya banyak mendapat cibiran dari orang yang saya kira dekat dan bisa memahami saya. Saya tidak sedih, namun akhirnya saya marah. Saya emosi. Astagfirullah.

Saya saat ini sedang diuji bahwa memang kasih sayang manusia itu ada batasnya. Saya tidak butuh cibiran mereka. Yang saya butuhkan adalah fokus.

Hinaan dan perkataan yang mereka berikan pada saya akan saya terima dengan hati yang baik. Meskipun saya masih kesal. Tapi saya akan fokus dan belajar memaafkan mereka. Biarlah. Biar itu menjadi penguat doa saya. 

Saya akan menikah InsyaAllah tahun depan, maka saya perbaiki diri saya. Saya mulai bangun pagi dan belajar menyiapkan semua. Saya harus lebih siap. Saya sudah daftar gym karena saya ingin lebih sehat. Saya akan berusaha bisa mendampingi dan melangkah seiring dengannya. Yang saya lakukan dalam penantian ini adalah menunggu. Biarlah orang2 yang menjadi pesorak itu. Biarlah. Memikirkan mereka hanya membuat lelah….

.

.

.

.

Focus on good. Yosh!