Repost: Pen Name

MIZANMAG.COM – Anda kenal dengan penulis Mary Westmacott?
Ia adalah penulis cerpen dan drama tentang asmara asal Inggris. Buku-buku yang lahir dari tangannya, antara lain: Giant’s Bread (1930), Unfinished Portrait (1934), Absent in the Spring (1944), The Rose and the Yew Tree (1948), A Daughter’s a Daughter (1952), dan The Burden (1956)

Jika Anda belum mengenalnya juga, hal itu bisa dimaklumi. Sangat mungkin bagi seorang Mary Westmacott untuk tidak terlalu mendunia dan gaung seperti halnya penulis kisah roman lainnya. Akan tetapi, bagaimana dengan Agatha Christie? Apakah Anda mengenalnya

Tidak disangka: Mary Westmacott dan Agatha Christie adalah dua nama dengan satu identitas yang sama. Tapi, kenapa Agatha Christie memutuskan mengganti namanya ketika menulis kisah roman? Ada apa sebenarnya?

Secara umum, fenomena mengganti nama asli dengan nama pena kerap dilakukan banyak penulis luar negeri. Selain Agatha Christie, kita pun menemukan Nora Roberts, penulis novel kisah romantis, yang mengganti namanya menjadi JD Robb saat menulis kisah thriller. Mark Twain, yang nama aslinya adalah Samuel Langhorne Clemens, Harry Turtleddove memakai nama “HN Turtletaub” kala ia menulis novel sejarah, dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan penulis dalam negeri

Di tanah air pun berlaku hal yang sama. Ambil contoh, penulis Hafalan Shalat Delisa, Tere Liye. Ada yang menyangka penulis ini adalah seorang perempuan, walau aslinya justru kebalikan. Banyak yang kaget mengetahui nama asli Tere Liye adalah Darwis.

Bukan Darwis saja yang punya pilihan unik untuk nama penanya. Ada Heri Hendrayana Haris, yang lebih dikenal publik atau pembaca novel Indonesia dengan nama Gola Gong. Atau, Boim Lebon, yang bernama asli Sudiyanto. Ada pula penulis yang hanya mengganti sedikit namanya, atau memotong nama yang terlalu panjang. Misal, Asmarani Rosalba, yang lebih dikenal dengan nama Asma Nadia. Atau, Andrea Hirata Seman Said Harun, alias Andrea Hirata.

Sebenarnya, untuk apakah nama pena itu dibuat dan dipajang dalam buku-buku yag mereka buat sendiri? Apakah ada maksud lain di balik itu semua?

Dunia penulis tidak sesederhana menyembunyikan nama asli demi privasi. Bagaimanapun, penulis yang menerbitkan karyanya juga terkait dengan dunia penerbitan. Sehingga, ada beberapa alasan—yang bisa jadi—tidak ada hubungan langsung dengan penulis sebagai sosok personal. Lebih bicara tentang kepentingan banyak pihak. Meski demikian, tidak dinafikan juga ada penulis yang memakai nama pena untuk tujuan pribadi.

Setidaknya ada dua alasan menarik yang bisa disimak.

Pertama, pertimbangan nama dan genre tulisan. Kadang, nama asli penulis tidak bisa mewakili genre tulisan yang ditulisnya. Untuk itu, diperlukan modifikasi seperlunya. Sebagai contoh, naskah remaja “Lupus” identik dengan “Hilman”. Begitu pula naskah “Madre” identik dengan nama “Dee”. Jika Hilman hendak menulis novel sejarah semisal karya Langit Kreshna Hariadi, tentu riskan bila memakai nama Hilman. Sebab nama itu cenderung pop, ringan, khas remaja, dan sudah lekat dengan karya Lupus. Begitu pula Dee, yang terasa aneh bila membuat catatan gokil seperti karya “My Stupid Boss” karya Chaos@work. Kalaupun mereka mampu melakukannya, nama mereka tak memungkinkan lagi digunakan untuk karya yang cita rasanya beda.

Yang paling real dari contoh ini adalah J.K. Rowling. Sengaja namanya ditulis ala J.R.R. Tolkien, penulis kisah fantasi “The Lord of The Rings”, dan C.S. Lewis dengan seri “Narnia”. Dengan demikian, nama asli Joanne disembunyikan, lantaran kisah fantasi sudah identik dengan penulis laki-laki dengan gaya nama semacam itu. Kesan awalnya, J.K. Rowling adalah seorang laki-laki. Tapi tak masalah jika terungkap, bahwa dia perempuan setelah novel “Harry Potter” terbit dan meledak di pasar.

Yang unik, Rowling sebenarnya tak punya nama tengah. Dia diminta untuk mencantumkan nama tengah, dan jadilah tambahan “K”. “K” sendiri berarti Kathleen, yakni nama nenek dari pihak ayahnya. Nama aslinya adalah Joanne Rowling. K hanya tambahan agar seperti penulis fiksi fantasi pada umumnya.

Kedua, menghindari ekspos yang berlebihan. Kadang, penulis dalam satu media menulis lebih dari satu tulisan. Jika tulisan-tulisan tersebut mencantumkan nama yang sama, terkesan media tersebut kekurangan penulis dan tentu citranya menjadi kurang baik. Kasus ini pernah dialami Robert A. Heinlein, yang menulis dengan nama samaran hingga bisa dimuat dalam satu majalah. Atau, Stephen King, yang menulis dengan nama Richard Bachman lantaran penerbit tak mau menerbitkan karyanya bila menggunakan nama asli—walau pada akhirnya ketahuan juga, terungkap dari sejumlah kesamaan gaya tulisan yang ditemukan kritikus.

Source: http://www.kaskus.co.id/thread/51bf2ed8621243ed2e000000/kenapa-penulis-memakai-nama-pena/?ref=postlist-21&med=recommended_for_you

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s