Love Story #1: Love at first sight

Well, on my blog, I really wanna share a good story that people can take goodness from it. Maybe not all what I share are good, some are the stories of my feeling. But in this ‘Love Story’ series, I really wanna share a sweet-bitter thing called love. The story can be mine or others’ that I directly notice or know it.

Okay, here is the first story.

Memang ga harus banyak syarat untuk jatuh cinta. Seorang teman berkata padaku beberapa waktu lalu, “Ko bisa sih ya, ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Well, aku ingin jawab, “Ya bisa aja. Ada beberapa yang mengalami hal itu.”

Mungkin kamu juga pernah ngalamin hal itu. Saya? Well, entahlah. Mungkin iya, jikapun iya, pasti ternyata banyak sebab yang bikin saya suka sama orang itu. Bisa jadi dia mirip seseorang yang saya suka. Dia rapi atau ya, entahlah. Pasti ternyata ada banyak sebab dibalik rasa suka saya pada pandangan pertama.

Well, kita sebut saja lelaki itu A, dia murid baru di sekolah. Gayanya biasa aja. Dia memang rapi dan keren. Pokoknya semua yang dia pake, emang ‘kekinian’ banget waktu itu. Dan teman saya langsung suka dia pada pandangan pertama. Teman saya sedang meraut pensil saat A dan kawannya yang juga murid baru, bertanya dimana kelas mereka. Waktu itu teman saya memang langsung suka pada A. Dan temannya yang sedang meraut pensil di depan kelas kala itu, langsung melangsungkan ‘black propaganda’, dia bilang si A pasti anak nakal. Otomatis teman saya ini, ga akan berubah pikiran secara langsung, dia masih suka pada A. Si A bukan tipikal anak gaul yang mudah terbaca. Dia pendiam, memang tidak sangat pintar, dia lumayan pintar, dia tidak menonjol, biasa saja, tidak sangat ganteng juga, dia biasa. Satu hal, dia baik, meski pendiam, dia royal, dia mudah percaya pada teman-temannya, dia rapi. Mungkin teman saya ini suka pada A karena A mirip seseorang di masa lalunya, atau mungkin teman saya suka sama A karena A berpakaian rapi, atau mungkin karena dia pakai kacamata? Entahlah. Ga butuh alasan kenapa kamu suka sama seseorang kan?

Lalu akhirnya, setelah hampir dua tahun teman saya jatuh hati pada A dan beruntungnya atau mungkin ‘sialnya’, si A tahu bahwa teman saya ini suka padanya. Sebelum kelulusan, A akhirnya bilang pada teman saya, intinya apakah teman saya suka sama dia. Dan teman saya bilang, ‘Engga.’

Jujur waktu itu semua kaget karena harusnya teman saya itu bisa dapetin si A setelah penantian panjangnya dia. Tapi ya itu dia, kita ga butuh alasan juga kenapa akhirnya teman saya bilang ‘Engga’. Dan A pun kecewa. Entahlah, mungkin waktu itu teman saya memang ga punya perasaan apa-apa lagi sama A. Atau karena memang teman saya ini tidak boleh pacaran, sehingga dia bingung mau jawab apa. Atau mungkin karena teman saya ini sudah punya orang lain? Atau mungkin karena teman saya ini mau fokus untuk ujian SMA? Entahlah.

Yang jelas, ketika kamu suka seseorang, suka beneran ya. Maka perasaan itu akan masih ada. Itu bisa jadi konyol banget ketika kamu ingat itu. Atau itu bisa jadi sesuatu yang sangat menyentuh dan membuat kamu sensitif, nangis, atau apapun itu.

Life is sweet-bitter, love is too 🙂

Advertisements

One thought on “Love Story #1: Love at first sight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s