Belajar Sederhana 1

“Kata orang, kita akan bertemu dengan seseorang yang melangkah di jalan yang sama dengan kita.”

Well, hari ini saya bertemu dengan seseorang, uniknya ini secara tak sengaja. Dia adalah seseorang. Ya, seseorang. Dari jauh, saya sudah bisa mengenali dia. Meskipun sebetulnya banyak yang berubah tapi ada satu hal yang tak berubah. Dia masih sederhana.

Untuk menjadi menarik memang tak perlu banyak gaya, tak perlu banyak yang ditonjolkan. Saya teringat pepatah dari Ali bin Abi Thalib:

Ya memang benar, seburuk apapun dirimu, orang yang mencintaimu tak akan pernah menganggap hal itu sebuah keburukan, dalam artian jika ia menganggap itu adalah hal buruk dia tak akan membencimu, sebaliknya dia akan merangkulmu dan membenahimu.

Saya pernah sangat tidak enak ketika teman saya bercerita. Dia tahu ada seseorang yang mendekati karena memandang dia memiliki sesuatu atau dia anak siapa atau dia itu punya latar belakang apa. Mendengar itu, saya berpikir dan mulai merindukan pertemanan tulus seperti pertemanan anak sekolah. Saya termasuk anak yang akan merangkul siapapun. Kata Papa, semua orang bisa berteman dan bertemanlah dengan orang baik yang akan membawamu pada kebaikan. Jika kamu jadi teman seseorang teruslah berbuat baik padanya. Siapa yang menanam dia akan menuai.

Well, terkadang kelebihan kita tak perlu diungkapkan karena semua itu titipan. Tadi saya bertemu dengan manusia sederhana namun memiliki banyak makna. Akan terlalu berlebihan jika yang kata makna saya ganti dengan kata pesona.

Well, belajar menjadi sederhana. Menjadi seseorang yang sederhana membuat kamu akan dicintai apa adanya, kamu akan dicintai secara perlahan ketika orang-orang mengenalmu. Tapi entahlah, jika berbicara dengan dia, atau hanya melihatnya saja, saya bisa melihat sebuah kebaikan yang tulus.

Bisa jadi orang akan menyangka, dia keterlaluan karena pendiam atau justru malah seperti terlalu cuek. Tapi semua temannya tahu dia tak seperti itu, dia mungkin terlihat dingin tapi dia bisa lebih hangat dan peduli daripada orang kebanyakan. Entahlah saya tak pernah melihat dia dingin atau kaku, jika saya adalah orang lain yang tak mengenalnya mungkin saya hanya akan menyangka dia baik. Dia memang baik, meskipun jika hanya melihatnya kita tak tahu ada banyak kehebatan yang tersembunyi di balik kesederhanaan dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s