Well, kemarin pas beli nasi goreng, denger obrolan anak2 TPB ITB.

“Makan apa kamu? Nasi goreng? Ga bosen Nasi Goreng terus?”
“Haha engga. Lha? Kamu juga?”
“Iya, haha. Soalnya nyari makan di sini apa coba yang murah dan bikin kenyang? Rasa mah standar.”

Denger percakapan kaya gitu bikin saya mikir. Betapa kita harus bersyukur. Biasanya nih, orang-orang yang kaya gitu yang bakal sukses. Orang yang perih.

Kemarin saya bener-bener bangga sama mereka. Belum tentu yaa, makanan yang kita makan ngaruh ke mana kita akan berkuliah.

Dan mas-mas pedagang nasi gorengnya baru. Lucu mendengar percakapan “Jawi” mereka. Usia mereka mungkin masih belasan. Di usia mereka mungkin saya masih bermalas-malasan main atau memboroskan uang orang tua. Tapi, kemungkinan besar bukan keinginan mereka untuk akhirnya pergi jauh dari rumah, dengan bekal seadanya, jauh dari bangku sekolah, mengambil keputusan yang besar, melangkah ke kota.

Saya bisa jadi marah dengan anak yang sembarangan memakai fasilitas orang tua, les tapi hanya menunduk bermain gadget yang terus menerus lekat di tangan, atau melamun entah memikirkan apa, mungkin pula hanya mojok di ujung kelas, berpacaran, bahkan tak hadir.

Betapa orang tua mereka, kemungkinan besar menaruh harapan yang luar biasa di pundak mereka.

Well, yes memang ga semua seperti itu. Banyak anak yang bertanggung jawab dg semua fasilitas orang tua mereka.

Jika sekarang, kamu duduk di bangku sekolah atau kuliah. Bersungguh-sungguhlah. Ini kesempatan kamu bikin bangga orang tua. Rangking di kelas, IP terbaik, aktif dan sholeh.

Kemarin, aku mendengar cerita pahit akan anak yang sibuk dg dunia mereka. Sehingga tak peduli orang tua. Kamu mungkin enak dibesarkan dg kedua orang tua yang menua seiring dg kedewasaanmu. Tapi kamu pernah pikir orang yang tak tumbuh bersama orang tua. Anak yang mungkin mereka bingung ingin banggakan siapa. Well, bahagiakanlah mereka, orang tua.

Dulu, saat kamu bahkan hanya bisa berkata A, B, saja. Mereka setia tersenyum dan bangga. Mereka bahkan tak tidur jika kamu sakit dan terjaga. Hm. Inilah saat tepat bagimu membalas semua cinta mereka.

Mereka yang dalam diam berdoa dalam setiap langkahmu. Tetap cinta meski kau kasar padanya. Tetap sayang meski kau mungkin lupa bahkan malu tentangnya.

Mungkin kau dulu mengutuk Malin Kundang? Kau bilang dia durhaka. Maka cukupkanlah Malin sebagai bahkan instrospeksimu.

Jika saat ini Mama dan Papa atau Ayah dan Ibu atau Emak dan Bapak ada didekatmu, bilanglah bahwa kau cinta mereka, bertekadlah bahwa kau akan sayang dan membuat mereka bangga, berubahlah menjadi anak yang doanya kelak akan didengar Allah saat mereka tiada.

Jika mereka jauh, doakan dg tulus. Cintai dg hatimu. Yakinlah bahwa Allah akan membalas cintamu pd mereka 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s