Untuk Kamu

Untuk seseorang yang menjadi Imam-ku di masa depan, aku melihat dunia ini begitu indah. Bagaimana denganmu?

Untuk kamu, apakah kamu tahu bahwa pernikahan kita nanti bukan hanya untuk di dunia saja? Itulah mengapa aku selalu berpikir ulang untuk menikah. Aku sulit untuk mempercayai siapapun. Tapi kemudian aku mencoba percaya padamu maka aku mempercayakan dunia dan akhiratku padamu.

Untuk kamu, tahukah kamu bahwa aku merasa tidak pantas ada di sisimu? Aku merasa takut bertemu dengan ibumu. Aku takut semua akan menyangka aku mengambilmu dari mereka, keluargamu.

Terima kasih kamu percaya kalau aku tidak begitu. Aku terus mencoba untuk layak mendampingimu, menambal setiap kekurangan dan mengganti apapun dengan yang lebih baik.

Aku tak akan merebutmu, dari siapapun, apalagi dari ibumu. Aku ingin mereka percaya bahwa aku pun akan menjagamu. Aku memang bukan Khadijah yang dengan kedewasaannya beliau mampu menenangkan Muhammad SAW. Aku pun bukan Fathimah yang senantiasa selalu bersabar dalam hidupnya. Aku bukan siapa-siapa tapi aku berusaha untuk benar-benar bisa menjaga dan merawatmu. Tolong katakan bahwa aku juga akan merawat orang tuamu, sama seperti orang tuaku.

Kamu, kita berangkat dari titik yang berbeda. Entah kenapa Allah mempertemukan kita. Adakah ternyata kamu yang menjadi jawaban dalam tangisku beberapa waktu lalu? Ataukah aku yang ada dalam doamu? Aku tak tahu.

Kamu, tahukah kalau aku sesungguhnya masih ragu? Benakku penuh dengan kekaburan. Adakah memang kamu yang akan menjadi temanku? Aku masih tak tahu.

Kamu, aku memang memilihmu. Terima kasih karena kamu pun begitu.

Kamu, mungkin kamu tahu kalau aku masih ragu. Bahkan aku tak pernah merindukanmu, hanya hati ini yang mengkhawatirkanmu.

Kamu, aku tak bercanda. Aku memang masih menunggu. Aku menunggumu. Kau meninggikan derajatmu, derajat kita kelak. Namun, dalam penantianku, aku ingin bertanya padamu, tak apa bila nanti kamu menunggu?

Aku serius. Aku takkan menghubungimu. Ini tak berakhir. Namun ijinkan aku mendekatimu dengan caraku. Sehingga mereka percaya bahwa aku dan kamu, kita pantas bersatu.

Kamu, tunggulah aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s